TUNAS PUITIKA MEDIA TUNAS MUDA MENUJU KREATIF
Showing posts with label Galleri. Show all posts
Showing posts with label Galleri. Show all posts


Para Penakluk Mimpi 
Penulis: Shella Dian Safitri, dkk.
tebal: vi+102 hlm, 14,8 x 21 cm
editor: Amry Rasyadani 
penyunting: Enggar Dhian P.
Harga: Rp 40.000,-
ISBN 978-602-1082-40-9

Kesuksesan dan keberhasilan dapat ditemui di mana pun. Sekilas akan tampak sebagai hal yang biasa. Namun, jika kita mau melihat lebih dalam, kesuksesan hanyalah milik orang-orang yang mau bekerja keras. Berbagai usaha yang dilakukan oleh si sukses tak cukup hanya berupa doa dan taat menjalani rutinitas sehari-hari. Tetesan peluh dan urat tangan yang kencang diperlukan pula untuk menggapai keberhasilan. Hingga pada akhirnya mereka dapat menggapai impian yang tak hanya sekadar mimpi. 

Buku ini menceritakan berbagai kesuksesan yang berhasil diraih oleh para penakluk mimpi. Mereka bukan orang-orang besar. Tak sedikit dari mereka adalah orang-orang kecil yang kerap diremehkan dan berusaha memeluk mimpi di setiap jerih payah mereka. Semoga buku ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi yang bermanfaat.



Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi
Penulis: Enggar Dhian Pratamanti, S.S., M.Hum.
Tebal: viii+105 halaman, 14,8 x 21 cm
Tahun: Maret 2016
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-39-3

  
Bahasa Indonesia di perguruan tinggi sungguh berbeda dengan bahasa Indonesia yang ada di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas. Bahasa Indonesia yang notabene adalah bahasa resmi Republik Indonesia tentu berperan penting di dunia pendidikan, terlebih di bangku perguruan tinggi yang menjadi ujung tombak pendidikan di Indonesia.


Buku ini memuat materi Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia yang dipelajari oleh mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Buku ini ditulis dengan penuturan yang sederhana dan dilengkapi dengan berbagai sumber yang mendukung. Dengan demikian, diharapkan dapat menjadi teman belajar yang baik dan bermanfaat bagi para mahasiswa baik saat mengambil Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia, ketika mengerjakan tugas akhir, maupun setelah diwisuda dan terjun ke dunia kerja. Mari, berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan lancar.




Yuk!! Ngampus...
Penulis: Naulfaldy Ridhlo Anggoro, dkk.
Tebal: viii+59 halaman, 14,8 x 21 cm
Tahun terbit: Maret 2016
Editor: Amry Rasyadani
Penyunting: Rini Indah Sulistyowati, S.Pd., M.Pd.
Harga: Rp 40.000,-
ISBN 978-602-1082-38-6

Artikel ini berisi berbagai wacana tentang polemik yang sering kali dihadapi oleh para mahasiswa dalam menentukan jurusan untuk melanjutkan jenjang pendidikan di bangku perguruan tinggi. Terlihat sepele namun tak dapat disepelekan karena penentuan jurusan sama halnya dengan penentuan gerbang penentu kesuksesan.



Penulis: Aminatun, dkk.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: viii+187 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif
Penyunting: Enggar Dhian
Harga: Rp 50.000,-
ISBN 978-602-1082-36-2

Memang materi bukanlah ukuran mutlak suatu kesuksesan. Kesuksesan lebih bernilai jika diukur dengan keringat dan kerut masai si sukses dalam meraih apa yang ia perjuangkan. Ada banyak bentuk buah kesuksesan yang berhasil diraih setelah melewati jalan terjal yang penuh kelokan. Kekayaan finansial, kebanggaan, dan ketenaran adalah hasil kesuksesan yang didambakan setiap orang. Namun, kerendahhatian si sukses seakan melengkapi kesempurnaan buah keberhasilan yang diraih.




Penulis: Hana Fajaryanti, dkk.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tahun: 2016
Tebal: viii+191 halaman, 14,8 x 21 cm
Editor: Ratih Fajarwati
Penyunting: Enggar Dhian
Harga: Rp 50.000,-
ISBN 978-602-1082-37-9

Kesuksesan bukan mimpi yang abstrak. Bukan pula mukjizat yang tiba-tiba muncul. Kesuksesan harus diperjuangkan agar dapat diraih. Siapa pun yang mau bekerja keras, ulet, optimis, dan pantang menyerahlah pemenangnya. Tak jarang orang meremehkan kemampuan dan nasib orang lain yang terlihat lemah akan tetapi tanpa disangka si lemah justru meraih kesuksesan melebihi yang lain. Hal itu terjadi tidak lain karena perjuangan dan keyakinan yang kuat.





Antologi Puisi Langkah
Penulis: Zidny Rizqi, dkk.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: viii+74 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Penyunting: Syamsul Anwar, S.Pd., M.Pd.
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-35-5


****
Puisi adalah karya sastra yang tersusun atas deretan kata yang padat makna serta mengandung unsur-unsur unik yang khas. Maka dari itu, menulis puisi bukanlah pekerjaan yang ringan dan sepele. Menulis puisi memerlukan pemahaman dan keahlian yang baik. Terlebih pemahaman akan makna-makna sosial yang akan diadopsi dalam puisi yang akan ditulis.

Buku ini disusun agar pembaca dapat memperoleh manfaat di setiap butiran puisi yang termuat di dalamnya. Puisi-puisi yang kami tulis adalah cerminan fenomena sosial di masyarakat sekitar mencakup masalah pendidikan, sosial, dan hakikat kehidupan yang bersumber dari pengalaman penulis sehari-hari. Dengan penuh kesabaran dan pertolongan dari Allah maka buku ini dapat kami selesaikan.

****




Antologi Puisi Untuk Sahabat
Penulis: Andy Maulana Putra, dkk.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: vi+73 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Penyunting: Syamsul Anwar, S.Pd., M.Pd.
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-34-8


****
Sahabat adalah tempat mencurahkan segala perasaan. Tak ada yang tak ingin punya sahabat. Tak ada pula yang tak bangga jika memiliki sahabat yang baik dan setia di kala susah maupun senang. Segala hal yang menakjubkan bagi kami dari seorang sahabat berusaha kami rangkum dalam lirik-lirik puisi yang indah.

Puisi-puisi ini kami tulis dengan kata-kata yang tak sederhana. Kata-kata yang kami persembahkan untuk persahabatan yang tak sederhana. pula Semoga antologi ini menghibur dan mampu memberikan makna bagi pembaca.

****




Antologi Puisi Cemara
Penulis: Alin Ambarwati, dkk.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: viii+72 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Penyunting: Syamsul Anwar, S.Pd., M.Pd.
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-33-1


****
Cemara selalu indah ketika pagi dan mampu memberi nuansa syahdu di kala senja. Begitu pula halnya dengan sajak yang tak pernah mati tergerus waktu. Berawal dari mata kuliah Menulis Kreatif yang kami dapatkan di bangku kuliah, kami mencoba memahami lingkungan sekitar. Lalu, berusaha merangkainya dalam kata-kata yang puitis.

Para penulis puisi yang terhimpun dalam antologi ini berusaha menggambarkan berbagai fenomena sosial di masyarakat. Tentu dengan pemahaman dan penilaian yang tak sama. Masing-masing berusaha memaknai segala segi kehidupan dari berbagai sudut dan nilai. Pada dasarnya, antologi ini kami susun sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sastra khususnya puisi.

****




Antologi Puisi Romansa
Penulis: Puspita Arum Handayani, dkk.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: vi+68 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Penyunting: Syamsul Anwar, S.Pd., M.Pd.
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-32-4


****
Berbicara tentang puisi tentu tak terlepas dari berbagai romantisme-romantisme kehidupan sosial di sekeliling kita.. Hidup tak pernah lepas dari segala kesukaran dan kegembiraan. Begitu pula hidup tak pernah luput dari berbagai asumsi dan sudut pandang yang berbeda dari masing-masing pelaku kehidupan. 

Kesemuanya lalu menimbulkan berbagai paradoks yang berkembang menjadi perkara. Melalui antologi ini penulis berusaha menuangkan berbagai kejadian sosial dalam larik-larik puisi. Semoga dapat menghibur dan memberi makna bagi pembaca.

****



Panduan Penggunaan Boneka Tangan
Sebagai Media Penanaman Karakter
dalam Kegiatan Bercerita Siswa Sekolah Dasar
Penulis:
Joko Sulianto, S.Pd., M.Pd.
Fajar Cahyadi, S.Pd., M.Pd.
Fitri Yulianti, S.Pd., M.Pd.
Mei Fita Asri Untari, S.Pd., M.Pd.
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: vi+183 halaman, 15,5 x 23 cm
Harga: Rp 70.000,-
ISBN 978-602-1082-31-7

Buku Panduan ini berisi kumpulan cerita anak yang dilengkapi dengan skenario bercerita melibatkan interaksi guru dan siswa menggunakan boneka tangan dalam pembelajaran di kelas. Penggunaan boneka tangan bertujuan agar siswa dapat tertarik untuk menyimak cerita, memahami cerita, menerapkan amanat, dan meneladani perilaku tokoh dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan nyata.
Adapun media boneka yang dimaksud adalah boneka dijadikan sebagai media atau alat bantu yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran. Jenis boneka yang digunakan adalah boneka tangan yang terbuat dari potongan kain. Jadi pengertian media boneka tangan adalah boneka dijadikan sebagai media atau alat bantu yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran, yang ukurannya lebih besar dari boneka jari dan bisa dimasuki tangan.
Buku ini merupakan hasil pengembangan dari sebuah penelitian yang mengembangkan media boneka tangan dalam kegiatan bercerita untuk menanamkan budi pekerti pada siswa SD serta menganalisis keberterimaan media boneka tangan dalam kegiatan bercerita untuk menanamkan budi pekerti pada siswa SD berdasarkan uji coba lapangan.



Trunajaya Pahlawan Nusantara
Penulis: Drs. Kismanto
Tebal: vi+58 halaman, 14,8 x 21 cm
Penerbit: Tunas Puitika
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Harga: Rp 30.000,-
ISBN 978-602-1082-27-0



Buku ini mengisahkan kepahlawanan Trunajaya dalam perjuangannya melawan Kompeni Belanda pada abad ke-16. Melukiskan patriotisme anak bangsa, ia gagah berani melawan dan menegakkan kebenaran tanpa kompromi. Selain itu dalam buku ini juga mengisahkan kezaliman dan kebengisan raja. Raja yang juga telah menggadaikan bangsanya kepada penjajah.



Novel Antara Langit dan Maratua
Penulis: Enggang
Tahun terbit: Desember 2015
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: vi+164 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Harga: Rp 40.000,-
ISBN 978-602-1082-26-3


“Kami mengantar semua tulisan-tulisan itu ke surga. Ya, ke surga. Tulisan itu akan dibaca oleh manusia-manusia yang telah mati di surga. Itulah rutinitas kami sebagai pengantar surat. Surat bukan sembarang surat. Kami pengantar surat dari bumi ke langit. Aku, Sang Lumeang, salah satu pengantar surat ke surga. Di mana di dalamnya mengalir sungai-sungai berair susu. Sungguh, sungai di sana mengalirkan susu dan para bidadari mandi di tepinya.”

Sebuah kisah dari pengantar surat yang mendiami wilayah kerja Kepulauan Derawan, gugusan pulau kecil nan indah di pesisir timur Kalimantan. Lumeang mengemban tanggung jawab untuk mengantarkan surat yang ditulis oleh Hamda dan Nani kepada Aleida di surga meskipun Lumeang dibingungkan dengan ketidakadaan Aleida sebagai seseorang yang harus ia kirimi surat di dalam surga.

Lalu di manakah sebenarnya Aleida berada? Apa yang menyebabkan Aleida tak berada di surga? Apa yang harus dilakukan oleh Lumeang terhadap surat-surat untuk Aleida? Siapakah Hamda dan Nani yang mengirimkan surat-surat itu? Apakah surat-surat itu salah alamat?


Jalan Berdarah Menuju Tokyo; Neraka di Iwo Jima
Penulis: Drs. Kismanto
Tahun terbit: Desember 2015
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: vi+120 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-28-7

***** 
Perang merupakan jalan terakhir antara dua kubu yang saling bertentangan. Tidak ada satu pun perang di dunia ini yang menghasilkan kebahagiaan. Perang justru menciptakan penderitaan begitu pula yang dialami baik oleh tentara Jepang maupun Amerika.

Manusia seringkali menciptakan perang yang kebanyakan bermotif balas dendam. Dikobarkannya perang seakan menjadi sebuah kebutuhan manusia demi kesombongan, hegemoni, dan kejayaan.

Lautan sudah tidak teduh lagi setelah Jepang membokong Pearl Harbour, pangkalan armada Amerika Serikat terbesar yang berada di kawasan Pasifik. Aksi pembokongan tersebut membuat Amerika merasa terhina maka dalam rapat kongres Presiden Franklin Delano Roosevelt meminta persetujuan peserta kongres untuk menyatakan perang terhadap Kekaisaran Jepang. Dalam Konggres tersebut menghasilkan suara bulat untuk mengabulkan permintaan Presiden Roosevelt yaitu mendukung penuh bahwa Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Kekaisaran Jepang. Perang yang memakan banyak nyawa pun dimulai.


Selamat membaca.



Siang itu panas. Suara sound menambah gerah para tamu undangan. Dari selatan muncullah pemuda berbatik hijau. Wajahnya ramah tapi matanya tajam menakutkan. Ia menuju pelaminan. Mempelai wanita itu ia beri ucapan. Senyum di pipinya menandakan bahwa mereka sahabat. Sekarang giliran mempelai pria. Ia jabat tangannya sambil memeluknya sambil membisikkan sesuatu. "Aku tahu rahasiamu," sang mempelai pria pucat pasi. Pemuda berbatik hijau tersenyum lebar, lebih lebar dari sewajarnya.
Keesokan harinya, mempelai pria sebut saja Rudi, mendatangi rumah pemuda berbatik hijau. Awan hitam menaungi wajah Rudi. Digenggamnya tas kain berwarna abu-abu. Makibot, pemuda berbatik hijau, menyambutnya dengan ramah. Digenggamnya tangan Rudi sambil berkata, "selamat datang tuan, mari bicara."
Rumah itu tidak begitu besar. Terdapat gambar-gambar manusia berjenggot, entah siapa mereka. Rudi hanya mengenal satu, Nietze sang Superman. Ada dua gelas teh hangat tersedia di atas meja. "Saya tahu tuan akan datang," bisik Makibot. Makibot kemudian meneguk teh hangat. Rudi mengikutinya. Teh itu rasanya manis tapi entah kenapa ada perasaan bersalah ketika meminumnya. Tak lama kemudian Makibot berkata, "mari kita bermain Quid Pro Quo. Aku akan memberi tuan satu rahasia dan tuan juga memberiku satu rahasia."
Wajah Rudi menegang. Urat-urat wajahnya bersatu membentuk simpul di keningnya. Tetapi Rudi tahu resiko pergi ke rumah Makibot. Tas abu-abu ditaruh pelan di atas meja. Makibot tersenyum, "aku hanya butuh cerita."
"Quid Pro Quo," Rudi hanya menggeleng. "Pulanglah tuan! Pikirkan lagi! Aku hanya butuh cerita. Jika tuan diam maka hal-hal buruk akan menyertai. Temui aku jika tuan siap."
Sampai di rumah, Sinta menyambut Rudi. Diciumnya tangan suaminya itu kemudian ia gandeng tangannya menuju meja makan. Sayur lodeh hangat beserta tempe goreng sudah tersedia. Dalam hati, Rudi menangis tersedu-sedu. Ia pandangi istrinya, ia beri kecupan hangat di keningnya. Mereka makan bersama tetapi jiwa Rudi entah ke mana.
Pagi-pagi sekali, ketika matahari masih bermalas-malasan, Makibot datang ke rumah Rudi. Celana training, kaos, dan sepatu kets menjadi tampilannya kali ini. Sambil berlari-lari kecil, Makibot menghampiri Rudi yang sedang duduk di teras. Makibot berbisik, "aku tahu tentang Puspita." Makibot berlari meninggalkan Rudi sambil terbahak-bahak. Tiba-tiba langit gelap dan guntur menggelegar. Rudi jatuh tersungkur. Matanya gelap, segelap masa lalunya.
Sudah tiga hari Rudi terkapar di rumah sakit. Dokter tidak bisa menjelaskan penyakitnya. Tubuh Rudi lumpuh hanya mulutnya yang selalu berucap, "Makibot." Sinta susah payah mencari Makibot. Tiga hari ini Makibot hilang begitu saja. Orang-orang desa menerka bahwa Makibot ikut tuannya, setan berjenggot. Hari ke empat, Makibot muncul di rumah sakit. Ia memakai kopiah dengan pakaiannya yang serba hitam. Ia tersenyum pada Sinta. Seperti disihir, Sinta meninggalkan Makibot dan Rudi.
"Quid Pro Quo, bad things would follow. Aku sudah memberi tuan yang aku tahu, sekarang giliran tuan. "Seketika Rudi membuka mata, ia bangun dari tidurnya. Ketika Rudi ingin membuka mulutnya, ia tercekat. Kerongkongannya kering laksana gurun. Mulutnya seperti di sumpal karet gelang.
Makibot memejamkan mata. Tangannya terlentang. Ia mendongak ke atas. Dari pintu segerombolan orang berlari menuju Makibot. Seseorang bertubuh kekar menendang perut Makibot hingga jatuh tersungkur. Gerombolan itu belum berhenti, bogem mentah berkali-kali menghantam Makibot namun ia tetap tersenyum.
Sebaliknya, Rudi meronta-ronta. Selang infus putus. Darah mengucur dari lengannya. Badannya terlempar dari tempat tidur. Kepalanya membentur tembok. Rudi mengerang meminta ampun. Tubuhnya bergerak tak terkendali. Ia meloncat ke jendela kaca. "Pyar!!" Kaca jendela pecah. Rudi terjatuh dari lantai 7.
Makibot di bawa ke depan Balai Desa. Darah bercampur bensin menetes di tubuhnnya. Seluruh penduduk desa merasa miris bercampur takut. Seorang ibu menutup mata anaknya. Seorang tetua desa bersedekap seolah menyembunyikan tangannya yang gemetaran.
Makibot terkekeh. Pemuda berbadan kekar telah siap membakarnya. Klik! Korek api telah dihidupkan. Sekian detik kemudian tubuh Makibot menyala. Ia tidak berteriak, tidak pula meronta. Dengan lantang ia berteriak, "quid pro quo adalah kebenaran. Carilah di bawah meja makan! Kau akan menemukan kebenaran." Ia terkekeh kemudian terbahak-bahak. Tubuhnya lantas tersungkur dan hilang dalam asap hitam.
Penduduk desa tertegun. Seorang anak kecil tertawa sambil bertepuk tangan. Tetua desa sudah kencing di celana. Pemuda kekar dan gerombolannya seperti disihir. Mereka berlari ke rumah Rudi. Rumahnya terkunci, Sinta masih berada di rumah sakit. Pemuda kekar mendobrak pintu dan langsung menuju meja makan. Dilemparnya meja makan itu. Teman-temannya mengambil cangkul di belakang rumah. “Ketemu!” Tanpa ba bi bu keramik mereka hancurkan.
Setengah meter galian, mereka menemukan sesosok kerangka manusia. Kerangka itu meringkuk dan mendekap kerangka seorang bayi. Pemuda berbadan kekar menangis. Tumitnya tak kuasa menahan berat hatinya. Kerangka itu adalah Puspita, kekasih sang pemuda kekar.
Keesokan harinya terdengar gosip-gosip miring seputar Rudi dan Puspita. Tentang anak yang dikandungnya. Tentang kebodohan seorang pemuda bertubuh kekar. Tetapi tak seorang pun yang berani berbicara soal Makibot.
Pagi itu ketika matahari sedang malas, Sinta duduk di teras. Matanya masih sembab, ia menerawang jauh memikirkan masa depannya. Dari arah selatan, seorang pemuda berbatik hijau menghampiri Sinta. Sambil menjabat tangannya, pemuda itu berbisik, "quid pro quo aku tahu rahasiamu."

========================================
(Quid Pro Quo, 9--11) 



Di teras rumahnya yang terbuat dari kayu ulin berwarna gelap ini Nani selalu menunggu Mmak pulang. Kata Ua, Mmak pergi ke tempat yang sangat jauh. Nani tidak pernah tahu apa nama tempat yang sangat jauh itu, tapi Nani punya keyakinan, Mmak pasti pulang.
Uwuk masih saja sibuk dengan jagung rebus yang tak habis dimakan Nani. Perut anak usia enam tahun itu masih belum mampu menghabiskan satu buah jagung rebus. Uwuk adalah seekor uwa-uwa yang sudah lama menjadi teman Nani dan selalu bersedia menghabiskan makanan sisa yang tak habis dimakan Nani.
Nani dan Ua tinggal di rumah yang terletak agak masuk ke dalam hutan Pulau Maratua. Dulu Mmak juga ikut tinggal satu rumah di sana, tapi sudah setahun ini tak kunjung ada kabar pasti tentang keberadaan Mmak. Ua sehari-hari berjalan jauh keluar hutan menuju pasar Desa Payung-payung untuk menjual hasil kebun pada para nelayan. Uwuk lah yang selalu menemani Nani di rumah jika Ua sedang pergi ke pasar.
Kebanyakan masyarakat Pulau Maratua adalah Suku Bajau yang bekerja sebagai nelayan. Namun, Ua memilih jalan yang lain. Ua tidak terampil menangkap ikan, tidak pandai memperbaiki jala yang putus, juga tidak bisa berenang. Selain itu, keterbatasan ekonomi membuat Ua tak mampu memiliki kapal untuk melaut. Jangankan beli kapal, menyewa saja Ua tak sanggup. Dengan dibekali sedikit ilmu bercocok tanam dari orang tuanya, Ua akhirnya membuka kebun kecil di belakang rumah panggung yang ia tinggali bersama Nani. Menanam sebisanya, mulai dari singkong, tebu, jagung, dan lain-lain kemudian menjual hasilnya ke pasar atau dibarter dengan berbagai macam kebutuhan.
“Ua bertemu Mmak tidak di pasar?” Tanya Nani ketika Ua pulang ke rumah. Ua hanya menggeleng. 
“Kenapa Mmak tak mau pulang, Ua? Apa Mmak benci sama kita?” Tanya Nani lagi.
“Nani, mana mungkin Mmak benci sama kita? Mmak sayang sama kita. Nanti juga Mmak pulang. Kau sabar saja,” Ua berusaha membesarkan hati anak perempuannya itu. Nani hanya menghembuskan napas kecewa.
“Oh iya, ini Ua bawakan kau arumanis kesukaanmu. Tadi Ua beli di pasar Payung-payung,” tambah Ua sambil mengeluarkan bungkusan dari dalam keranjang bawaannya.
“Kenapa warnanya putih, Ua?” Tanya Nani begitu menerima arumanis dari Ua.
“Loh kenapa? Kau tak suka?” Tanya Ua heran.
“Biasanya Ua bawa yang merah.”
“Tadi yang merah habis, tinggal yang putih. Tak apa-apa kan?  Toh rasanya sama.”
“Beda Ua. Lebih manis yang merah.”
“Ya sudah, kalau kau tak suka, kasihkan Uwuk saja.”
“Janganlah. Uwuk sudah aku kasih jagung tadi.”
“Kalau begitu dimakan saja. Merah atau putih sama saja. Sama-sama arumanis.”

==============================

Hujan minggu itu tak kunjung usai juga. Singkong yang ditanam di kebun belakang rumah mulai membusuk terendam genangan air hujan selama tiga hari. Nani duduk di teras rumahnya bersama Uwuk. Tangannya masih memegang arumanis berwarna merah muda yang sudah mengeras pemberian Ua kemarin sore.
Hari makin sore, tapi Ua belum juga pulang. Sedangkan hujan sepertinya tak mau sekadar beristirahat sebentar untuk mengguyur bumi yang kepayahan. Angin mengejar di mana-mana. Menggoyangkan nyiur-nyiur pohon kelapa. Satu per satu singkong di belakang rumah tercabut dari tanah lalu hanyut terbawa arus air. Petir terus-menerus merongrong langit dengan cahaya dan suara yang tiba-tiba. Sedangkan sinar matahari sudah mulai malu-malu di balik awan dan kabur ke barat.
Sesekali Nani beranjak ke teras samping dan menoleh ke belakang rumah. “Siapa tau Ua ternyata tidak lewat halaman depan,” begitu pikirnya. Tapi nyatanya yang ia lihat hanya hujan, genangan air, dan kebun singkong yang rebah.
Kemarin sore Ua pulang dari pasar membawa arumanis untuk diberikan pada Nani. Hujan masih deras, tapi Ua seperti sedang bergegas akan pergi lagi.
“Ua mau ke mana lagi?” Tanya Nani sambil mencuil sedikit arumanis di tangannya.
“Menjemput Mmak,” jawab Ua singkat sambil terburu-buru memasukkan berbagai macam benda ke ranselnya.
“Mmak sudah pulang, Ua? Di mana Mmak sekarang?” Tanya Nani bersemangat.
“Ada di laut. Air sedang tidak bagus. Jadi harus dijemput pakai kapal yang lebih besar.”
“Ua ikut kapal itu?”
“Iya. Ikut dengan orang-orang dari Desa Payung-Payung yang juga mau menjemput keluarganya.”
“Aku ikut jemput Mmak, Ua.”
“Tak usah. Kau tunggu di rumah sama Uwuk. Laut sedang tidak bagus, Nani. Berbahaya.”
“Tapi aku ingin ketemu Mmak.”
“Nanti kita semua akan ketemu. Kau yang sabar menunggu. Lagi pula kau kan masih demam. Nanti kau malah tambah sakit. Sambil menunggu, kau makan arumanis itu. Kau suka yang warna merah kan? Itu Ua belikan warna merah kesukaanmu.”
“Iya, Ua.”
“Jangan kau habiskan arumanismu sebelum Ua pulang ya,” Ua menggendong Nani sambil mencium keningnya.
Nani mengangguk lalu mengantar kepergian Ua sampai teras rumah sambil membawa arumanis merah muda yang baru ia makan secuil.

===============================


(Arumanis Nani, 11–15)

Judul: Kumpulan Cerpen Symphony Cinta
Penulis: Harry S.
Tahun terbit: Oktober 2015
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: vi+92 halaman, 14,8 x 21 cm
Editor: Enggar Dhipra
Layout: Moh. Arif
Desain cover: Moh. Arif
Harga: Rp 40.000,-
ISBN 978-602-1082-25-6


Kisah cinta dengan segala pernak-perniknya memang selalu menjadi kisah yang menarik untuk diceritakan di mana saja. Kisah cinta paling segar adalah kisah cinta yang dialami oleh remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Persaingan, persahabatan, dan ketenaran menjadi bumbu khas yang manis.
Sebuah cerita, bagaimana pun pengemasannya selalu bertolak pada kehidupan nyata yang mengesankan. Hal itu pulalah yang menjadi dasar penulis dalam menulis karya-karyanya. Harry S. adalah seorang penulis cerpen, puisi, dan artikel yang menekuni hobinya sejak remaja. Dengan gaya khasnya Harry S. menyuguhkan pola cerita cinta yang menarik. Konsep cerita yang dibawakannya tak luput dari fenomena kisah remaja putih abu-abu. Gaya bahasanya pun terkesan khas dengan gaya cerita romantis era 90-an.
Membaca kumpulan cerita Symphony Cinta ini seolah membawa kita kembali mengenang romansa kisah cinta tahun 90-an. Gaya bahasa, diksi, dan kisah cinta remaja di masa itu terkesan sangat nyata dan indah. Suasana sekolah yang riuh dengan persaingan, persahabatan, dan cinta menjadi kombinasi cerita yang sangat menarik.






Sesosok hantu membuat tembok di tengah hutan. Mustahil untuk dilalui karena tingginya menembus langit dan kerasnya bagai berlian. Manusia yang mencoba menembusnya akan menggerutu lalu kembali ke desa. Ada yang menunggu runtuhnya tembok itu. Setahun, dua tahun, tetapi sia-sia. Orang-orang yang tersesat di hutan akan linglung melihatnya. Bagaimana bisa sebuah tembok dibangun di tengah hutan? Apa pula maksud dibangunnya tembok itu? Beberapa orang bijak mencoba menjawabnya tapi tidak pernah mencapai simpulan yang meyakinkan.
Pada suatu hari ada seorang anak manusia yang melalui hutan. Ia berasal dari Desa Gagah. Lokasinya tidak terlalu jauh dari hutan. Tidak begitu jelas mengapa anak itu berkeliaran di hutan. Mungkin karena ia seorang pengangguran. Jadi, ia mengisi waktunya dengan hal-hal yang tidak berguna. Anak itu tertegun melihat tembok di tengah hutan. Ia tersengat ketika menyentuh tembok itu. Ia mundur tiga langkah, mengernyitkan dahi, duduk, lalu bengong. Beberapa lama ia tetap bengong. Mulutnya terbuka. Air liur menetes di samping bibirnya. Seekor lalat terbang tepat di atas kepalanya, buang hajat, kemudian terbang kembali.
Hantu pembuat tembok duduk di atas pohon, melihat sebentar padanya, kemudian tidur lagi. Hantu itu meramalkan sang anak manusia akan pergi. Jika tidak pasti ia akan menunggu sampai mati, seperti orang-orang sok jagoan lainnya. Tapi melihat dari penampilannya, sang hantu yakin anak manusia akan pergi. Anak itu tidak punya kemampuan teknis dan akademis untuk menembus tembok itu. Wajah anak itu juga jauh dari kesan pejuang kebenaran. Jauh juga dari kesan filsuf. Apalagi ia berasal dari Desa Gagah, desa para penyamun. Sang hantu terkekeh karena pikirannya sendiri. Ia masih ingat kebodohan yang dilakukan orang-orang Desa Gagah. Orang-orang desa itu membawa makanan dan berdoa pada tembok. Ada yang minta jodoh, ada yang minta rejeki, ada yang minta ilmu kebal.
“Mereka pikir tembok ini Tuhan? Dasar orang-orang sinting,” gumam hantu dalam hati.
Anak manusia menggali tanah dengan tangannya. Makin dalam, makin dalam, dan makin dalam hingga menutupi badannya. Hantu berpikir bahwa anak ini pasti tidak waras. Anak manusia mulai tidak kelihatan dari atas pohon. Hantu mulai khawatir. Jangan-jangan anak itu menggali tanah untuk melalui tembok. Hantu terbang dari pohon, menembus tembok, dan masuk ke sisi lain. Ia tidak salah. Anak itu sudah berada di sisi lain tembok. Mengibas-ibaskan bajunya yang kotor oleh tanah galian. Sang hantu kaget setengah mati. Baru kali ini temboknya berhasil dilalui. Yang lebih parah, tembok itu dilewati oleh orang seperti anak itu. Yang bahkan kurang pantas disebut sebagai manusia.
Sang hantu memutar otak. Mondar-mandir bagai manusia. Jangan sampai anak itu mencapai kebenaran. Jika ia sampai menemukannya, maka tatanan semesta akan hancur. Sang hantu menemukan solusinya. Dengan segenap kekuatan ia membuat jurang yang sangat lebar. Dalamnya tak terkira, lebarnya sekitar satu benua. Satu-satunya cara melaluinya adalah dengan terbang di atasnya. Mustahil anak manusia bisa melaluinya. Jika masih ingin, maka ia harus punya sayap. Manusia tidak mungkin punya sayap. Manusia tidak ditakdirkan untuk terbang. Manusia ditakdirkan untuk berjalan, makan, sedikit bersenang-senang, lalu mati.
Anak manusia duduk di tepi jurang. Sorot matanya menjadi redup. Bibirnya yang tebal bergerak-gerak seperti membaca sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku bajunya. Ia pandangi sebentar kemudian ia masukkan lagi ke sakunya. Sang hantu mengira bahwa manusia akan membuat semacam alat untuk terbang. Entah dari daun atau baju yang sedang dipakai. Sepanjang pengetahuan hantu, memang begitulah manusia, selalu membuat alat untuk memuaskan keinginan.
Anak manusia berdiri dari duduknya, melihat jurang sebentar, berbalik arah, kemudian berjalan menjauh. Hantu tersenyum sinis kemudian meludah. Tidak semua air ludahnya jatuh ke tanah, sebagian mengenai wajahnya sendiri. Hantu hendak beranjak pergi ketika guncangan hebat seperti merobohkan bumi. Anak manusia telah merobohkan tembok di tengah hutan. Tembok itu jatuh menutupi jurang. Anak manusia dengan santai berjalan di atasnya. Hantu terbelalak tidak percaya.
Bagaimana bisa? Tidak mungkin! Hantu mulai panik. Tidak mungkin ia melawan lagi. Kekuatan anak manusia melebihi perkiraannya. Satu cara terakhir selalu berhasil. Sang hantu telah menggunakannya sejak awal terbentuknya dunia. Cara itu adalah: TIPUAN.
“Tuanku anak manusia, hamba mohon berhenti sebentar. Berhentilah sebentar dan dengarkanlah hamba berbicara. Tuan makhluk yang amat kuat. Bumi dan langit saksinya. Tembok besar dan jurang dalam tidak dapat menghambat Tuan. Tapi hamba mohon jangan teruskan perjalanan, Tuan. Kasihanilah saya, Tuan. Hamba diutus untuk menjaga tembok itu. Hamba diutus untuk menghambat perjalanan orang-orang desa. Jika hamba gagal, maka akan menjadi aib bagi hamba. Mohon kabulkan satu permintaan hamba. Satu saja! Tidak lebih!” sang hantu merengek-rengek. Anak manusia merasa terkejut tapi kemudian mengangguk tanda setuju.
“Izinkan hamba bertukar peran. Hamba menuju jalan kebenaran dan Tuan yang menghalangi saya. Jika saya berhasil maka Tuan harus kembali ke desa. Jika saya gagal, maka saya terkutuk menjadi manusia selama-lamanya,” sang hantu berkata dengan segenap kesungguhan. Tapi, matanya menyimpan kelicikan yang siap merenggut kewaspadaan anak manusia. Dua belah pihak setuju. Maka, permainan segera dimulai.
Sang hantu berjalan di hutan mencari tembok penghalang jalan. Anak manusia berada di atas pohon. Sorot matanya memancarkan ketenangan. Sang hantu terus mencari namun tidak menemukan tembok di hutan. Ia letih mencari, hendak beristirahat sebentar. Ia duduk di bawah pohon rindang. Hembus angin membawa sebuah buku kecil berwarna emas. Sang hantu teringat bahwa buku itu adalah milik anak manusia. Ia girang bukan kepalang karena sebentar lagi ia akan mengetahui sumber kekuatan anak manusia. Sang hantu membuka sampulnya, ia membaca, dan terus membaca. Tahun demi tahun berlalu. Sang hantu terus membaca, kata demi kata, kalimat demi kalimat, lembar demi lembar. Ia bahagia menjadi manusia.

====================================== 

(Menjadi Manusia, 3–6) 



AKU tengah mengalami cerita cinta yang aneh. Aku jatuh cinta kepada Ratih, gadis yang telah kukenal sejak kecil. Hingga kini, entahlah, aku tak yakin apakah Ratih mengerti dan merasakan jika aku mencintainya. Aku belum menyatakan perasaanku pada Ratih. Aku hanya berpikir bahwa aku belum menemukan cara dan waktu yang tepat saja. Kegalauan tingkat dewa benar-benar menghajarku.
Hanya saja, bukan soal kegalauanku yang kemudian menghambat pernyataan cintaku kepada Ratih yang kuanggap aneh. Kupikir, adalah hal yang wajar jika seorang lelaki sejenak kehilangan akal untuk nyatakan cinta kepada seorang gadis, meskipun gadis itu telah ia kenal sangat lama lebih dari separuh perjalanan hidupnya.
Namun, keanehan itu adalah, ketika dalam beberapa malam terakhir, aku benar-benar terbadai oleh kerinduanku kepada Ratih. Maka, sebelum tidur aku selalu berdoa agar aku bisa bertemu dengan Ratih di alam lima dimensi mimpi. Akan tetapi, yang terjadi, aku selalu bermimpi tentang seorang lelaki tua dan lukisan-lukisannya.
Dan inilah yang sebenarnya akan kuceritakan.
Lelaki tua itu bernama Wijoyo. Rambutnya panjang dan sebagian besar telah memutih. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah di pojok selatan kampungku. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah melukis. Dari kabar yang kudengar, ia tak pernah menikah.
Pada awalnya, dari mimpi-mimpiku aku sempat berkesimpulan, mungkin aku harus menyatakan cinta kepada Ratih dengan memberinya lukisan yang indah. Namun, ketika suatu hari kuputuskan untuk mengunjungi lelaki tua itu, dan hal itu berlanjut hingga berbulan-bulan aku sering duduk mengobrol dan menemaninya melukis, barulah aku mengerti jika ternyata kesimpulanku salah. Benar-benar salah.

***

“Wajah siapakah yang sedang kau lukis, Kakek?” tanyaku pada suatu hari.
Dari lukisan-lukisan yang pernah kulihat di rumah Wijoyo, semuanya adalah lukisan wajah manusia.
“Seseorang yang ada di dalam kepalaku,” jawab Wijoyo. Singkat. Memang kulihat Wijoyo menyapukan kuasnya begitu saja di atas kanvas tanpa melihat sebuah gambar atau foto wajah seseorang.
Pelan namun pasti. Aku melihat raut kesungguhan Wijoyo, dan begitu nyata wajah yang ia lukiskan. Wajah itu, di mataku adalah wajah seorang perempuan tua. Aku menyadari, agak lama aku mengamati wajah dalam kanvas itu. Ia adalah wajah perempuan Eropa. Aku benar-benar takjub saat wajah itu terlihat seolah bernyawa, dan ia tengah menyapa Wijoyo.
Aku tertegun, “Kau melukis wajah perempuan Eropa.”
Wijoyo diam saja.
“Siapakah dia? Namanya? Oya! Ngomong-ngomong, kapan terakhir kali engkau bertemu dengannya? Atau barangkali, kapan kau menerima surat dan kiriman foto ini darinya?”
“Sudah kubilang, aku hanya melukiskan wajah seseorang yang ada di dalam benakku. Aku hanya memperturutkan gerak tanganku,” jawab Wijoyo, “bahkan, mungkin aku bisa melukisnya meskipun kau tutup mataku.”
“Hmm... Baiklah. Lalu, siapakah namanya?”
“Namanya Hellen.”
Lalu, dengan cepat ia menyambung kata-katanya, “Ia seorang Belanda.”

***

Suatu malam, aku kembali datang ke rumah Wijoyo. Aku sengaja membawa bubuk kopi dan beberapa potong roti bakar yang kubeli di dekat rumah. Seperti yang sudah-sudah, ia sedang duduk melukis. Aku segera menuju dapur untuk menyeduh dua gelas kopi dan mengambil piring untuk menaruh roti.
Segera kucomot sepotong roti berselai strawberry.
“Makanlah dahulu, Kek. Engkau sangat serius terhadap berjuta wajah yang kau ciptakan.”
Wijoyo berhenti sejenak. Ia menoleh ke arahku. Aku mencoba tersenyum. “Makanlah!” Tetapi, ia enggan membalas senyumku rupanya. “Oya,” aku mengeluarkan foto Ratih dari dalam dompetku, “bisakah kau melukis wajahnya untukku? Akan kuberikan lukisan wajahnya yang indah agar dia menerimaku, rupanya inilah cara yang memang ditunjukkan Tuhan kepadaku.”
Wijoyo masih saja terdiam. Aku mencoba bersabar. Sebentar lagi pastilah ia selesai merampungkan lukisannya. Aku tidak begitu tertarik untuk berkomentar atau menanyakan siapakah dia ataupun namanya. Kali ini, ia melukis wajah seorang pemuda seumuranku. Lagi-lagi, ia melukis garis karakter wajah Eropa.
“Atau, minumlah kopimu selagi masih panas.”  
Tak lama, ia berhenti melukis. Dipandanginya wajah dalam kanvas itu sebentar, lalu ia duduk di depanku.
“Kau sangat berlebihan,” katanya, “aku hanya melukis dua raut wajah, bukan sejuta wajah seperti yang kau bilang.”
Ia menyeruput kopinya. Aku sempat berhenti mengunyah roti.
Wijoyo melihat ke sekeliling ruangan. “Lihatlah, aku hanya menggambar dua raut wajah. Ia adalah Hellen, dan pemuda itu sepertinya adalah anaknya. Tetapi aku tak tahu siapa namanya,” kata Wijoyo.
Wijoyo melanjutkan ucapannya, “Aku tak pernah berkenalan dengannya. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya. Ia hanya berada di dalam kepalaku saja.”
Aku tidak berbohong. Sejak awal telah kuceritakan, aku merasakan sesuatu teramat aneh. Kemudian, setiap kali kutangkap redup tatap mata Wijoyo, hal itu semakin menegaskan: perasaan aneh semakin menggelayut di dalam dadaku. Seperti ada sesuatu yang ia simpan pada lebih dari tiga perempat abad usia hidup Wijoyo. Aku merasa tidak berhak untuk menanyakan rahasia itu, tetapi jujur aku sangat penasaran dan ingin mengetahui kisahnya.
“Semua wajah perempuan itu adalah Hellen.” Ia menunjuk. “Itu ketika ia masih muda, dan di dalam benakku aku dapat melihat wajahnya seperti yang kau lihat saat ini. Lihatlah dengan seksama, sisa kecantikannya masih lekat di wajah perempuan itu.”
Kurasakan, aku menjadi begitu sungkan untuk mengulang permintaanku agar ia melukis wajah Ratih. Untuk saat ini, aku hanya bergumam, Wijoyo bukanlah orang biasa.

*** 
==============================================


(Lukisan Wijoyo, 3336)