Judul : Semesta Cinta
Penulis : Edi Waluyo, dkk.
Penerbit : Tunas Puitika Publishing
Tahun terbit : 2014
Penyunting: Dwi Prasetyo, M.Pd.
Pracetak: Arif, & Enggar.
Desain Cover: Arif & Enggar.
Tebal :vi+97 halaman, 14,8 x 21 cm
Harga : Rp 38.000,-
Harga Kontributor: Rp 36.100,-
ISBN : 978-602-70787-0-3
Dalam hatiku ada semesta yang menyimpan semua peredaran cinta. Rindu ini terus berotasi dalam setiap revolusi hatiku untuk mengingatmu. Di sana tersimpan kepingan bintang dan meteor yang memahat jelas namamu. Orbitan rasaku untukmu terlalu dalam. Semua berputar dan mengitari ruang kosong dalam hatiku kemudian menyelipkan bayanganmu dan memajangnya sepanjang usia hingga musnah semua karena kiamat dunia.
Cinta telah jadi hal biasa tetapi sastra mampu mengubahnya menjadi luar biasa. Dalam antologi ini semua kisah cinta ditulis semenarik mungkin, pahit manis cinta penulis kemas dengan gaya mereka masing-masing baik dalam larik puisi cinta maupun prosa.
Selamat membaca.
Judul : Goresan Pena Para Pengkhayal
Penulis : Slamet Deni Saputra, dkk.
Penerbit : Tunas Puitika Publishing
Tahun terbit : 2014
Penyunting: Dwi Prasetyo, M.Pd.
Pracetak: Arif, & Enggar.
Desain Cover: Arif & Enggar.
Tebal :viii+124 halaman, 14,8 x 21 cm
Harga : Rp 38.000,-
Harga Kontributor: Rp 36.100,-
ISBN : 978-602-14766-9-7
Mitha, gadis tomboi itu, selalu diam termenung di balik set drumnya akhir-akhir ini. Ia termenung memikirkan masalah pelik antara ayah dan ibunya. Mitha enggan pulang ke rumah usai kerja paruh waktunya sebagai drumer grup band sebab ia merasa suasana rumahnya sudah seperti neraka. Perangai ayahnya yang kerap mabuk-mabukan dan menyiksa ibunya membuatnya benci. Apalagi setelah kejadian sabetan ikat pinggang yang melukai wajahnya. Perilaku sang ayah dianggapnya sudah melampaui batas, Mitha membenci ayahnya bahkan ketika sudah di dalam pusara.
Pras, sahabat Mitha, hanya dia yang bisa Mitha percayai sebagai pendengar cerita pilu dari kondisi keluarganya. Pras menyukai Mitha –tak peduli meskipun Mitha mempunyai pikiran bahwa Pras hanya cowok cemen yang takut ditinju gadis tomboi– dan ingin melindunginya.
Di atas adalah cuplikan cerpen Terang dalam Kegelapan Ayah yang menceritakan kisah broken home dan kepiluan hati seorang anak melihat kondisi keluarganya yang hancur. Masih banyak cerita menarik dalam buku antologi cerpen dan puisi ini. Bacalah!!!
Judul : Antologi Puisi Persetan
Penulis : Luthfiar Laeis, dkk.
Penerbit : Tunas Puitika Publishing
Tahun terbit : 2014
Tim Penyunting: Fiar, Abu, Aziz, Puthut, Haedhi
Pracetak: Abu, Arif, & Enggar.
Desain Cover: Abu, Arif & Enggar.
Tebal : vi+70 halaman, 14,8 x 21 cm
Harga : Rp 25.000,-
Harga Kontributor: Rp 20.000,-
ISBN : 978-602-14766-8-0
Persaudaraan bisa dengan apa pun. Di sini, untuk pertama kali, kami membuktikan sebuah rangkaian persaudaraan dengan puisi, salah satu ungkapan kejujuran tentang apa pun, yang terangkai pada kata dan bait.
Melalui buku ini, kami hanya ingin sedikit bercongkak ria dan membuktikan bahwa kami pun juga mampu untuk ikut andil dalam menyemarakkan kesusastraan serta ikut menambah koleksi buku puisi di rak buku Anda. Walaupun hanya dengan buku tipis dan masih banyak kekurangan dari pada kecukupan.
Persetan hadir dalam bentuk yang “tak beda dan tak membedakan” dalam artian setiap manusia yang ada di dalam wadah Persetan dipersilakan untuk menyumbang buah karya, ide atau apa pun untuk sekedar berekspresi atau memang benar-benar menampilkan ide besar. Buku ini adalah salah satu bentuk ekspresi dari beberapa teman-teman persetan.
Judul : Jangan Ngaku Keren Kalau Nggak Nulis!!!
Penulis : Enggar Dhipra
Penerbit : Tunas Puitika Publishing
Tebal : viii+169 halaman, 12,7 x 17,8 cm
Tahun : 2014
Harga : Rp 40.000,-
ISBN 978-602-14766-7-3
Pernah suatu ketika ada dosen ngomong dengan congkaknya, “Profesor kok nggak punya buku. Lihat saya, walaupun cuma S1 lulusan zaman Gestafu tapi saya punya lebih dari 25 buku.” Sekarang dosen itu sudah almarhum. S. Suharianto, dosen Universitas Negeri Semarang meninggalkan nama harum yang dikenang banyak orang mulai dari mahasiswa, pecinta sastra, hingga profesor. Ketika saya ikut kuliah di universitas lain, ada dosen yang bilang kalau S. Suharianto setara dengan profesor. Di beberapa buku referensi sastra yang ditulis oleh pemerhati dan akademis sastra yang lain, nama S. Suharianto sering disebut sebagai guru besar, profesor, dan ilmuan. Semua ini karena beliau gemar menulis dan menghasilkan banyak karya.
Ada lagi penulis beken di Indonesia yang dikenal banyak orang. Cerpen dan novel-novelnya banyak yang bertema percintaan. Makanya karyanya banyak digemari remaja dan orang dewasa. Nama Gola Gong pun semakin dikenal setelah Balada Si Roy difilmkan. Di masa mudanya Gola Gong pernah menjadi pemuda yang rendah diri karena tidak mempunyai tangan kanan alias cacat. Tapi, ayahnya pernah bilang kalau orang tidak akan memandangnya sebagai orang buntung kalau dia punya segudang prestasi. Sekarang semua menjadi kenyataan. Orang lebih mengenal Gola Gong sebagai penulis berbakat daripada penulis buntung.
Penulis novel 5 cm yang baru dirilis dan semakin populer karena diangkat ke layar lebar pun mengalami hal serupa. Donny Dhirgantoro yang emang dasarnya nggak mau “kerja ikut orang” pun akhirnya melepaskan pekerjaan formalnya dan menekuni dunia tulis menulis. Semua berawal dari kisah persahabatan lima remaja yang ia tulis di 5 cm.
Kalau mau diperpanjang, masih banyak kisah sukses yang menarik diperbincangkan hanya gara-gara menulis. Ada Andrea Hirata yang naik daun gara-gara tetralogi Laskar Pelangi, Djenar dengan protes sosialnya, juga Pramodya Ananta Toer yang nggak pernah “sekolah” tapi bisa mendapat penghargaan tinggi gara-gara karya hasil tulisannya.
Kita bisa aja bilang, “mereka semua kan orang-orang gedhe yang punya nyali dan keberuntugan.” Emang! Tapi dulu mereka juga orang kecil. Dan keberuntungan nyaris mustahil diraih tanpa usaha. Jadi, kenapa kita yang bukan orang gedhe nggak nyoba kayak mereka? Semua bukan hanya soal kesuksesan dalam bentuk finansial lho... Tapi, citra diri, kehormatan, kebanggaan, dan ilmu dapat kita raih dengan menulis.
Jangan percaya kalau ada yang bilang, “orang yang bisa nulis ya karena mereka punya bakat”. Kalau benar begitu, jurusan sastra di berbagai kampus seluruh Indonesia mending tutup aja. Wong nggak semua mahasiswanya berbakat kok. Statement ini jelas salah. Bakat urusan belakang. Yang penting minat dan niat. Kalau udah ada niat, maka menulislah. Menulis... menulis... dan jangan berhenti.