
Judul: Bisnis Ala Mahasiswa
Penulis: Wahyuningsih Solehati, dkk.
Tahun terbit: September 2015
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: viii+67 halaman, 14,8 x 21 cm
Editor: Enggar Dhipra
Layout: Moh. Arif
Desain cover: Moh. Arif
Harga: Rp 45.000,-
ISBN 978-602-1082-24-9
Tugas utama mahasiswa adalah belajar. Sedapat mungkin mahasiswa seharusnya mengoptimalkan kemampuannya untuk mencapai prestasi. Guna mencapai mencapai prestasi tersebut, tak hanya dapat mengandalkan otak untuk berpikir, kemampuan untuk berprestasi, dan waktu luang untuk belajar. Namun, juga perlu didukung oleh fasilitas dan sarana yang memadai.
Kadang mahasiswa mengeluh tentang uang saku yang dikirim orang tua pas-pasan sehingga tak mencukupi kebutuhan kuliah. Alih-alih untuk membeli buku dan sarana penunjang, untuk makan saja susah. Berlatar belakang hal ini, maka tak jarang mahasiswa memutar otaknya untuk menghasilkan uang. Caranya adalah membuka bisnis kecil-kecilan yang bisa disambi kuliah.
Tak jarang mahasiswa yang sukses berbisnis tak hanya menghasilkan kocek untuk uang saku saja namun bahkan dapat mengembangkannya hingga menjadi usaha utama yang bisa menjadi penopang hidup.
Judul: Eksotika Semarang; Sisi Lain Kota Atlas
Penulis: Ridwan Wicaksono, dkk.
Tahun terbit: September 2015
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: x+221 halaman, 14,8 x 21 cm
Editor: Enggar Dhipra
Layout: Moh. Arif
Desain cover: Moh. Arif
Harga: Rp 45.000,-
ISBN 978-602-1082-23-2
Di balik Kota Semarang yang kita kenal saat ini tersimpan ratusan kisah yang mempesona. Berbagai macam kisah tersebut sangat menarik jika kita gali dari berbagai sudut baik dari segi asal-muasal Kota Semarang, letak geografis dan tipografi alam, tradisi dan budaya masyarakat, karakteristik pergaulan dan pola tingkah laku, hingga beragam tempat dan kuliner yang masih dapat kita temui hingga sekarang.
Berbagai hal tersebut memiliki cerita tersendiri yang unik dan berbeda dengan kota lain. Sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah, Semarang memiliki ciri khas dan peranan yang penting di Indonesia. Di balik hal yang tampak, banyak pula keunikan yang tersembunyi. Keberadaan tempat-tempat mempesona yang masih belum diketahui banyak orang maupun pusat-pusat pariwisata yang baru saja muncul dan berkembang layak dilestarikan.
Judul: Kuliah Vs Kerja
Penulis: Rinti Eka Diana, dkk.
Tahun terbit: September 2015
Penerbit: Tunas Puitika Publishing
Tebal: viii+147 halaman, 14,8 x 21 cm
Editor: Enggar Dhipra
Layout: Moh. Arif
Desain cover: Moh. Arif
Harga: Rp 45.000,-
ISBN 978-602-1082-22-5
Kuliah dan bekerja adalah dua hal yang sama penting. Setiap orang mendambakan pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang layak. Sebagian besar orang memilih menempuh pendidikan setinggi-tingginya untuk mendapatkan pekerjaan yang selayak-layaknya. Namun, apakah kuliah selalu menjamin pekerjaan yang layak? Sebaliknya, apakah dapat meraih pekerjaan yang didamba jika seseorang tak mengenyam bangku kuliah? Begitu pula, apakah lulusan bangku kuliah akan dilirik oleh perusahaan tanpa pengalaman kerja?
Di sisi lain, bagi beberapa orang, muncul pertanyaan apakah kuliah tak memerlukan biaya? Apakah harus bekerja agar mendapat biaya untuk kuliah? Lantas, mana yang lebih penting dan harus dijalani lebih dulu, kuliah atau kerja?
Judul: Antologi Cerpen dan Puisi Kita dan SenjaPenulis: Andri Nurokhim, dkk.Tahun terbit: Agustus 2015Penerbit: Tunas Puitika PublishingTebal: x+127 halaman, 14,8 x 21 cm
Pracetak: Arif & Enggar
Desain cover: Arif & Enggar
Harga: Rp 35.000,-
ISBN 978-602-1082-21-8
****
Kehilanganmu seperti singgah kembali ke kedai kopi yang ditinggalkan pembeli. Sepi. Kopi masih berada di atas meja. Aku tertegun memandangi buih yang menggenang menutupi permukaan kopi. Kucoba meneguk kopi dalam cangkir ini. Rinduku semerbak serupa kopi ini. Semakin kuaduk semakin manis. Semanis kebersamaan kita saat itu. Percakapan-percakapan kita tentang mimpi di masa depan selalu saja mewarnai senja. Kita selalu sadar bahwa awan dengan semburat jingga yang manis adalah waktu yang tepat untuk berbagi banyak hal.
Kau selalu berhenti sejenak ketika sedang meneguk kopimu dan melemparkan pandangan ke depan sana. Aku tahu bukan jalanan yang kau perhatikan tetapi kibaran merah putih yang tinggi menjulang. Matamu berbinar melihat kibaran bendera merah putih. Lalu kualihkan pandanganku pada bendera merah putih di seberang sana. Kibaran bendera yang kini selalu membuatku berdebar. Mengingatkanku pada nasionalisme. Pada Hadirmu. Pada senja.
****